Kenyah Sebob


Chebob/Sebob/Sebup/ Sibup/Sibop/Sambup adalah sekelompok kecil dari Orang Ulu yang diklasifikasikan sebagai sub kelompok suku Kenyah. Dalam Konstitusi, istilah resminya adalah Sebop.

Sebob atau Chebob adalah nama kolektif untuk beberapa sub kelompok Kenyah di Long Pekun, Tebalau, Long Batan, Long Menapa, Long Puah, Long Temaja, Meleng, Ba Mali, Long Suku, Long Wat and Lirong. Semua sub kelompok serupa dalam bahasa, dimana hanya perubahan vokal kecil terjadi antara sub-kelompok yang berbeda.


Long Pekun Kenyah Sebob ditemukan di daerah Tinjar (Lemeting), yaitu Long Loyang dan Long Selapun. Seperti halnya semua kaum Kenyah di Sarawak, maka kaum Sebob pun percaya nenek moyang mereka berasal dari dataran tinggi Usun Apau. Perlu diketahui sebelum kaum Kenyah berada tinggal di Usun Apau, mereka adalah hasil migrasi Kaum Kenyah yang berasal dari Apau Da'a (tradisi lisan kaum Kenyah di Apau Kayan).


Baca juga : suku Kenyah

Penghijrahan dan perpecahan masyarakat suku Kenyah menjadi puluhan sub suku kecil kala itu diperkirakan terjadi sekitar tahun 1400-1600. (https://ms.wikipedia.org/wiki/Kenyah)

Di antara beberapa yang ketara sekali telah berubah dari segi bahasa adalah suku Kayan dan Penan, namun masih banyak terdapat persamaan dengan bahasa suku Kenyah. Sedangkan tradisi budaya mereka (Kayan, Penan) hampir tidak ada perbedaan yang ketara dengan kaum Kenyah bahkan cenderung identik sama.  

Contohnya adalah mereka menganut agama kepercayaan yang sama dimasa lampau (Apau Lagan, Bungan, Jalung Nyalang), tradisi melukis tubuh (tattoo) serta tradisi budaya telinga panjang kaum wanita dan prianya, pakaian adat yang sama, nama-nama orang (personal) mereka dan adat istiadat tradisi seni budayanya.

Faktor utama yang menyebabkan dialek-dialek vokal bahasa ini berubah disebabkan oleh faktor migrasi/penghijrahan nenek moyang suku Kenyah, Kayan dan Penan berabad-abad silam.

Kembali kita membicarakan sekilas tentang Kenyah Sebob. Dari aspek bahasa, kaum Sebob mempunyai keterkaitan erat dengan bahasa Kenyah dan Penan.

Silakan lihat tentang klasifikasi bahasa Kenyah menurut versi Soriente dan Smith (https://en.wikipedia.org/wiki/Kenyah_languages).

Berikut beberapa contoh dialek Kenyah Sebob dengan dialek Kenyah umumnya: 


Indon/Malay Sebob Kenyah
Kabar Lenga Denga
Dari Jin Cin, Cen
Itu/Sana Inah Ina
Betul Lan Lan
Bagus/Cantik Gap Gap
Waktu/Jam Pukun Pukun
Rumah Uma' Uma'
Bunyi Da'ok Dau
Bapak/Ayah Tama, Taman, Tamen Tama, Taman, Tamen
Ibu Tina, Tinan, Tinen Tina, Tinan, Tinen
Menulis Nyurat Nyurat
Berapa Kura' Kuda'

Pada mulanya kaum Kenyah Sebob lebih dikenali sebagai kaum Sebob Long Pekun dimana mereka mendiami Sungai Tinjar atau biasa mereka sebut sebagai Lemeteng. Mereka dipanggil sebagai Sebob Long Pekun karena nenek moyang kaum Sebob berasal dari Long Pekun yang terletak di Sungai Luar, Usun Apau Plateau.

Sebelum berhijrah kaum Sebob dikatakan pernah menetap di Batang Utip,Menavan. Dimana kawasan ini telah didiami oleh kaum-kaum lain seperti kaum Lirong dan Kenyah Uma' Jengan. Kaum Lirong terlebih dahulu meninggalkan kedua-dua kaum ini untuk menetap di kawasan Dapui.

Alasan mereka untuk migrasi adalah karena perang akibat kedatangan Raja Brooke yang menyerang suku-suku di kawasan Menavan agar mereka berpindah kawasan hilir sungai. Hal ini dilakukan untuk memudahkan jangkauan kerajaan Brooke pada saat itu.

Pemimpin Kenyah Sebob kala itu Tama Balan Ding meminta kaum Sebob untuk menghindari perang dengan cara migrasi/hijrah karena beliau merasa kasihan dengan nasib anak-anak dan wanita pada masa itu, meskipun kaum Sebob banyak yang menentang keputusan yang diambil Tama Balan Ding tersebut. Namun beliau segera mengatakan "Mari kita kasihan pada perempuan dan anak-anak" (Seling Sawing).

Kemudian mereka berpindah ke kawasan hilir sungai dan akhirnya menetap di Tang Pelutan, Dapui. Suku kaum Lirong mengelukan kedatangan mereka ke kawasan Dapui dan hidup bersama-sama. Kaum Lirong (yang bermigrasi ke Dapui sebelumnya) dan Paren Keta'u (Bangsawan) Ukun Bulieng mengundang mereka untuk tinggal dan menetap bersama-sama disekitar rumah panjang Lirong.

Kemudian Pengulu Sadimusak (Pemimpin Kenyah Berawan) yang menetap di Tinjar telah datang dari Sungai Tinjar untuk menjalin hubungan yang baik dengan kaum Sebob dengan pertukaran hadiah dan saling menghormati antara satu sama lain serta saling membantu dimasa depan. Pengulu Sadimusak berkata kepada kaum Sebob perihal Tama Bulan (pemimpin Kenyah di Baram) yang akan membawa beberapa orang Sebob untuk bertemu dengan Raja Brooke dan meminta agar Dapoi harus disediakan untuk kaum Sebob, yang kemudian Brooke menyetujuinya.

Setelah itu kaum Kenyah Sebob berpindah lagi ke hilir sungai yaitu di Long Telangau. Mereka telah membina rumah panjang yang lebih baik di kawasan tersebut. Tetapi kebakaran telah menyebabkan mereka berpindah lagi ke ulu sungai Dapui yaitu di kawasan Long Tebu. Kemudian mereka berpindah lagi ke Long Dulit, Long Ta'a dan seterusnya ke Pau Belieng.

Di Pau Belieng, kaum Kenyah Sebob mulai mengenal dan memeluk agama Katolik yang disebarkan dari kawasan Baram. Tidak lama kemudian mereka berhijrah lagi ke Long Burui yang mana disini merupakan penempatan terakhir kaum Sebob di kawasan Dapui.

Setelah sekian lama di Long Burui sebagian besar orang-orang Sebob terpaksa berpindah lagi ke Long Loyang karena menganggap pihak kerajaan tidak melibatkan mereka dalam projek pembangunan. Namun segelintir masyarakat Sebob telah kembali ke Long Ta'a yang kemudian berpindah ke Long Selapun.

Demikian cerita sekilas tentang Kenyah Sebob di Sungai Tinjar dan kemudiannya berpecah kepada dua rumah panjang sebelum wujudnya sebuah lagi kampung Sebob yang dinamakan Kampung Long Pala.


suku kenyah sebob


Dema Yeliang

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
View comments